Wednesday, 24 August 2011

Jadi...

Saya cukup merasa tersanjung ketika mengetahui ada beberapa orang yang sengaja meng-googling nama saya untuk mengetahui kehidupan pribadi saya, entah apa pun itu tujuannya, baik hanya ingin menemukan cacat saya atau pun kebaikan yang pernah saya taburkan di muka bumi ini.

Perlu diketahui kalau blog atau micro blog atau apa pun lah itu adalah cerminan apa adanya saya, gak dikurangi atau ditambahi, dan saya gak perduli dengan interpretasi kalian atau kalau pada akhirnya tulisan saya dipakai untuk menyerang saya.

Tetapi intinya terima kasih yaa sudah menambah visitor blog.. *kutekan*

Salam senyum tiga jari!
.putt.

Monday, 1 August 2011

ich bin stolz auf mich!

I'm happy!
Dua hari sebelum Ramadhan saya melakukan kegilaan yang tak diduga. Ya iyalah namanya juga gila, mana ada gila direncanain..
*toyor kepala*

Jadi ceritanya saya sedang dalam misi memusnahkan si doi dari pikiran dan hati saya, tetapi saya mau memunashkannya dengan datang ke Berlin, mengingat masa masa madu kami di sana.
Terdengar masuk akal kan? *nodong pisau*
Tujuan utamanya cukup sederhana. Saya menantang diri saya sendiri apakah bisa mengalahkan "candu" dia ke saya ketika saya berada di Berlin dengan tidak menemuinya :)
Itu dia!

Saya merencanakan trip ini dengan super kilat, tekad saya udah bulat, kalau ga ada yang minat ya memang nasib berjuang sendirian. Tetapi memang untung sudah tidak buntung lagi. Ketika saya mencoba mengajak Rosa, seorang wanita Korea setengah gila, dia menyambut dengan suka cita hip hip hura karean dia pun sedang butuh untuk escape.

Saya tekankan padanya bahwa ini adalah trip murah.
Berangkat dengan naik mitfahr (semacam sistem numpang mobil orang asing tapi sharing bensin), tidur di sofa orang lewat Couch Surfing, dan pulang dengan beberapa strangers dengan tiket kereta akhir pekan yang mana akan memakan waktu 12 jam.
Ya lumayan sih ya bok daripada lo jalan dari Beijing ke Uruqim..*eh, ini apa sik iklannya*

Eniwei, Rosa setuju dengan rencana geblek itu.
Masalahnyaaa adalah semuanya dadakan.
Ketika ente idup di mari dan semuanya gak well planned, akan ada dua kemungkinan. Kalo gak rencana bakalan gagal, ente bakal keluar duit banyak, sedangkan mengingat ane pelit tapi ambisius..ane gak mau dua duanya kejadian..
*nyengir kuda liar*
Kyaaaaa!

Jadilah saya membuat plan A,B,C.
Saya menghubungi beberapa host Couch Surfing malam harinya, tetapi ketika saya mengirim request itu sudah pukul 11 malam, mungkin banyak dari mereka sudah ada di surga ketujuh.
Walhasil tidak ada yang menghubungi kami sampai kami menuju Berlin.
Maka saya memikirkan plan B yaitu menghubungi seorang teman-yang-tidak-terlalu-dekat untuk ngerusuhin kamarnya.
Kalo tidak berhasil juga plan C yaitu pergi ke hostel hostel backpacker. Tapi ini bisa saja gagal karena sekarang adalah musim summer holiday dan lagi banyak buanget turis.
Lalu kalo gak berhasil jugaaaaa....Rosa mengusulkan untuk party sampe pagi sampe club-nya tutup, dan pulang.

*hening*

See. Dia memang wanita binal gila.
Tetapi saya yang ketika itu masih mengaku mempunyai harga diri berkata kurang lebihnya, "Mendingan gw ngetok appartemen si doi, nyopot semua harga diri dan misi, terus tidur di tempat dia.."

Eaaaaa. Modus tercium.. :))

Tetapi kami pun beruntung karena Daniel, seorang host CS yang baik hati, meng-sms dan memberitahu kalau kita bisa menginap tempatnya. Uhuuuu! *cipok Daniel* *eh*
Daniel is such a wonderful guy. He and his roommate, Laura, really tells us about everythin that we need to know. Give us maps and money some flyers about current events or festivals in Berlin.

Singkat kata, saya dan Rosa jalan jalan kek anak ilang beduaan di tengah hujan. Romantis sekali memang.. *menyeka air mata dengan sapu tangan pink*
Pada saat saya dan Rosa mengunjungi beberapa tempat di Berlin, hati saya sering kali mencelos karena ingat dia, bagaimana dulu saya merasa super happy ketika bersamanya.
Saya kangen.
Perasaan itu yang tidak bisa dibohongi.

Saya memang merasa gamang karena masih dalam misi untuk tidak mengajaknya bertemu.
Ok, dia tau saya ada di Berlin karena dia sempat menelpon, tetapi dia pun tidak mengajak saya untuk bertemu :)
Kasian deh lo.. *terdengar suara tawa Rahwana*

Lalu ada bagian dari diri saya yang berteriak teriak,
"Ya udah kalo dia ga ngajak ketemuan, lo yang ajak ketemuan. Kan lo kangen."
Lalu ada bagian diri yang lain berkata,
"Eh udah gila lo Munaroh. Kalo lo ketemuan sama dia, yang ada tar lo bakal mewek mewek, balik lagi ke situasi yang lama.."

Tapi saya berusaha konsisten dan fokus dengan misi saya semula. Saya berusaha untuk melawan candu, walaupun saya harus berdarah darah. Merdeka! *nyanyi Maju Tak Gentar*
Kontemplasi pun semakin besar ketika semakin mendekati jam kepulangan. Sampai akhirnya hari Minggu kelabu saya mengunjungi Mauerpark, dan menyaksikan musisi jalanan ini benar benar membuat saya berpikir


Jujur.
Dari sekian banyak tempat di Berlin, saya paling suka Mauerpark. Tempat yang menurut saya paling istimewa buat saya dan dia, karena kami benar benar bisa tertawa sambil menikmati musik yang dibawakan oleh orang orang yang karaoke lewat Karaoke Bicycle, apalagi ketika orang yang nyanyi benar benar jauh dari Andrea Bocelli atau bahkan Liam Gallagher.


Disana pun akhirnya saya pun memutuskan untuk benar benar tidak akan menemuinya hari itu.
It all depends on my state of mind.
I don't wanna trap in the same labyrinth.
Saya ingin mematikan cinta, dimana mungkin suatu saat nanti akan tumbuh kembali di situasi dan kondisi yang berbeda.
At first I really feel bad and afraid I will regret it, but when I was in the train home...I feel happy. And until now I don't regret it even any single thing.

Ich bin sehr stolz auf mich :)

Dan saya menganggap bahwa saya telah lulus ujian awal Ramadhan yaitu dengan menahan napsu dan ego yang membabi buta :)
Happy Ramadhan, all..

rgrds,
.putt.

Friday, 29 July 2011

love oh love

Saya baru saja menemukan artikel menarik dan ini kutipannya:
Berbagai penelitian ilmiah telah membuka, walaupun baru sebagian, betapa kompleksnya hubungan antara pria-wanita. Dan kompleksitas itu juga mencakup aspek biologis. Dari hormon yang mempengaruhi bau yang tertangkap oleh pasangan, kekuatan sentuhan dan pelukan dalam menghasilkan zat penenang alami, sampai komunikasi non-verbal yang kompleks yang hanya bisa ditangkap bawah sadar. Dan semua ini memerlukan kedekatan fisik langsung, yang gak bisa digantikan koneksi 1 Gigabyte/second sekalipun.
dan ini:
Cinta memang harus mati. Karena dia harus memberi tempat untuk lahirnya sang pengganti, yaitu cinta lain yang tidak memabukkan, tetapi memberi rasa tentram, aman, dan “companionship” (gak ada kata yang tepat untuk menterjemahkan “companionship”, karena ‘pertemanan’ dan ‘persahabatan’ juga kurang pas. Kalo gw boleh bikin kata sendiri, yang pas itu ‘perpendampingan’, dari kata ‘pendamping’)
(untuk selengkapnya silahkan baca di sini dan sini)

Untuk situasi dan kondisi saya sekarang, saya cukup membenarkan apa yang ditulis oleh bung Henry Manampiring *hmm, sekilas namanya kedengeran kek pemaen bola* bahwa kita, manusia, membutuhkan kontak fisik dengan lawan jenis, dan kontak fisik di sini yang dimaksud adalah BUKAN sexual intercourse melainkan kontak fisik semacam affection.

Di atas semuanya saya percaya bahwa kedekatan emosi dan fisik (intimacy) mendukung satu sama lain untuk membangun sebuah relationship yang long lasting, tetapi merujuk artikel kedua -- emosi memegang peranan yang lebih kuat.
Mungkin ini salah satu pertanda agar saya mematikan semua rasa dahulu, tidak high lagi, agar semuanya reborn kembali. Another supporting logical reason for my decision.

Sebagai penutup, membaca dua artikel tersebut mengingatkan saya dengan curhat gila semalam dengan seorang teman, Stefani, tentang rasa kangen saya yang membludak dan keinginan untuk menghubunginya bahkan menemuinya,
"It's normal because you're under the spell. Tapi lawan aja, Put. Itu semua emang kayak drugs, tapi kalo gak kamu lawan kamu akan kembali lagi dan kembali lagi dan pada akhirnya kamu yang bakalan menderita karena senangnya cuma untuk sesaat. Everything will be better during the times.."
So yea, I'm back on my battle now after taking a 3 years break :)

rgrds,
.putt.

Wednesday, 27 July 2011

hampir lima belas bulan

Tanggal 1 Agustus besok, saya akan genap tinggal di sini selama lima belas bulan.
Ermmm.
Kalo di pikir pikir waktu cepet banget berjalan. Saya pun kadang ketika bangun tidur masih ngerasa gak percaya kalo saya masih ada di sini.
Perasaannya sih campur aduk, antara kesel masih terperangkap di sini dan bersyukur.

Artinya udah 15 bulan saya pisah dengan keluarga, sahabat, dan polusi ibukota.
Udah beberapa momen bahagia saya lewatkan, seperti pernikahan dua sahabat saya, kelahiran anak pertama seorang sahabat, dan betapa sekarang si Gendis udah pinter banget ngoceh.

*sigh*

Minggu lalu saya benar benar ada di titik terendah selama saya tinggal di sini.

Patah hati *eh kapan jadiannya?* :D
Kaki yang bengkak segede gaban gara gara jatuh di eskalator Gare du Nord Paris.
Pleus masalah birokrasi di HU Berlin yang berujung pada tidak diterimanya saya di Uni idaman tersebut. Uni yang saya pikir berisikan orang orang kompeten, ternyata..yah begitulah..
Pleus lagi pikiran kalau minggu depan bulan Ramadhan akan dimulai dan awal September adalah Hari Raya Idul Fitri dan itu tandanya saya akan melewatkan lagi kesempatan kumpul dengan keluarga.

Di saat seperti itu saya benar benar putus asa dan sangat ingin pulang ke rumah, karena biasanya ketika saya nge-drop, saya bisa mengetuk kamar ibu saya kapan saja hanya untuk menangis sampai puas di pelukan beliau.
Saya sangat rindu pelukan beliau yang menenangkan dan jika beliau berkata semuanya akan baik baik saja, itu bukan sekedar ucapan penenangan belaka, tetapi memang karena saya yakin dan percaya semua akan baik baik saja.

Hmmfff...

Saya kesepian.
Iyah. Saya akui itu.
Memang saya punya banyak teman dan sahabat baru, tetapi tetap saja ada rasa dimana semuanya tidak lengkap.
Ya. Keluarga.

Tetapi saya akan berumur 26 tahun ini. Sudah lewat seperempat abad, dan sudah sepantasnya saya tidak banyak mengeluh. Sudah sepantasnya saya menelan semuanya bulat bulat dan sepenuhnya sadar bahwa ini semua adalah harga yang dibayar atas sebuah mimpi.
Sudah sepantasnya saya bersyukur bahwa di balik rengekan saya itu, saya masih diberi banyak kenikmatan.

Seperti keluarga asuh saya yang masih mau menampung saya walaupun secara resmi saya bukan Au Pair mereka lagi.
Kemudian saya telah diberi kesempatan menjadi praktikan di even internasional Jakarta Berlin Arts Festival.
Lalu saya telah mendapat admission letter dari dua universitas di Jerman. Satu universitas untuk jurusan South East Asian Studies dan satu universitas bekerja sama dengan Universitas di Denmark untuk jurusan European Studies. Artinya untuk universitas kedua, saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan double degree :)
Ditambah aplikasi beasiswa saya sedang memasuki proses akhir :)

Alhamdulillah.

Sebenernya saya masih menunggu jawaban dari satu universitas idaman saya, dan sejauh ini saya belum memberikan jawaban untuk kedua universitas tersebut.
Tetapi saya tetap bersyukur karena mimpi dan rencana saya satu satu telah bisa saya raih.

Ya semoga bisa terus fokus dan menjalani semuanya dengan ikhlas.
HAHAHAHAHA. Dan sekarang saya terdengar seperti seorang motivator picisan ;)

Rgrds,
.putt.

ps: I have a new homepage here. Just take a peek in my tumblr page if you wanna know about my whole shitty love story..

Saturday, 7 May 2011

habis gelap, (belum) terbitlah terang


Yes. Shit happens.
Was. At least not now. Not at this story.

After waiting for about 10 weeks, being an illegal foreigner for about 1 week, I finally got my new Visa. So I'm now officially as a student for a university's preparation. Alhamdulillah :)
I'm happy. Of course.
But thinking I have through another years here without knowing the exact time I will be come home, at least for a holiday, make me feel a bit depressed.

Another thing, I'm kind of take a break from all kind of traveling activity.
Cliche reason. I wanna save my money. I'm also thinking to take a part time work.
Because of one and many things, I'm considering to take a Uni in Berlin.
I'm pretty sure about the chance though, but the still dunno for sure actually..

Shit happens.
Yes it is.



Yah kan dia curhat deh.
Intinya, saya juga ga ngerti deh laki maunya apaan. Giliran dicariin dia ga nongol. Giliran ga dicariin, eh dia nongol. Hajinguk.
Pas dia nongol..eh dia udah punya monyet, cyinnnnnnnn!!! *garuk garuk tanah*

Oia,
Lagu itu lagunya temen saya (3d), lagu yang liriknya nampol sama situasi saya sekarang di atas itu buat si doi. Sengaja emang pake Bahasa Indon biar dia kaga ngarti :))

rgrds,
.putt.

Sunday, 1 May 2011

next plane home

"And I'm so lonely, you're not here with me, that's why I'm gonna be on the next plane home. I've always been a million miles away, and things are gonna change, but I just wanna come home.."
(Daniel Powter - Next Plane Home)


Hari ini genap saya setahun tinggal di negara yang...yang...ah ya sudahlah, lupakan saja.
Kangen rumah? Pasti dan selalu.
Saya ingat dimana bulan bulan awal hanya berisi makian, keluhan, plus rengekan ingin pulang karena segala sesuatunya sangat berbeda di sini.
Saya juga sempat berada di dalam fase yang senewen jika orang bertanya "kapan pulang?" sampai akhirnya ada di dalam fase ga peduli lagi klo orang bertanya itu :)

Selama setahun ini saya juga banyak belajar dan mulai merasa betah tinggal di sini. Atau mungkin tepatnya sudah bisa menerima kenyataan.
Ah, entahlah.

But one thing I know.
I promise my family that I'm gonna take the next plane home :)

rgrds,
.putt.

Friday, 22 April 2011

hands down


Hari ini baru tau kabar yang kurang mengenakkan, yang cukup mampu membuat saya drop (lagi).
Dan saya lupa kapan terakhir kalinya saya (benar-benar) berdoa.

rgrds,
.putt.