Saya terbangun dengan keadaan malas-malasan, apalagi mengingat ketika itu adalah hari minggu. Lalu seperti yang telah diprogram otaknya, saya langsung menyalakan laptop dan membaca-baca sejenak berita hari itu. Ketika membuka account twitter, mata saya tertumbuk pada tweet salah seorang teman, Unee, yang memberitakan rumor bahwa Stephen Gately meninggal dunia.
I was shocked.
Bit speechless, but I can't believe the rumour just like that, so I tried to do the google. After read the news in here, I started to believe that the rumour was right. *sigh*

Ketika orang-orang di dunia sedih dan berduka atas kematian Michael Jackson, jujur, saya tidak merasa sedih. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan ketika mengetahui Steve meninggal.
Saya merasakan kesedihan yang cukup dalam.
Saya juga tau akan merasakan kesedihan yang sama jika Robbie Williams, Anthony McPartlin, Tony Mortimer, Lee Brennan, dan Melanie Chisholm --mereka semua-- meninggal dunia.
Tiba-tiba memori saya seperti diputar kembali ke masa 14 tahun yang lalu, pada masa saya masih berusia 10 tahun, pada masa dimana semuanya bermula.
Masa kecil saya diwarnai oleh lagu-lagu pop boy/girlband dari daratan Britania Raya seperti Take That, Boyzone, Ant & Dec (PJ & Duncan), East 17, Ultra, 911, 5ive, Code Red, Spice Girls, Steps, dan masih banyak lagi.
Bahkan saya ingat pada tahun 1996 ketika Code Red mengunjungi Jakarta, saya bersama teman-teman rela mengejar dan menunggu mereka di lobi hotel Sahid Jaya demi mendapatkan tanda tangan dan kesempatan foto bersama.
Yes, I was such a boy bands' groupie back then. hahaha.
Jadi, salahkan mereka atas kegilaan saya terhadap semua yang berbau-bau Inggris, karena para bintang pop itulah penyebab ini semua.
Beranjak remaja, pada tahun 1997, saya mulai menyukai aliran musik britpop dan band-band Inggris. Selain musik mereka, saya jatuh cinta dengan aksen British kental ala Jarvis Cocker, Pete Doherty, Morrissey, Thom Yorke, Cerys Matthews, Damon Albarn, Chris Martin, Liam Gallagher, Brett Anderson, sampai era sekarang Alex Turner dan Luke Pritchard.

Saya juga mulai menjadi penikmat teh daripada kopi hanya karena budaya minum teh orang Inggris yang lebih dikenal sebagai British Tea Culture. Ketika mempelajari Bahasa Inggris, saya pun lebih memperhatikan perbedaan-perbedaan antara British English dan American English, begitu juga dengan aksen dan dialeknya.
Tak lupa, saya pun menjadi penikmat film-film yang berbau-bau Britania Raya seperti Trainspotting; A Clockwork Orange; 24 Hour Party People; Velvet Goldmine; Lock, Stock, and Two Smoking Barrels; Snatch; This is England; RocknRolla; Alfie; Happy Go Lucky; sampai Harry Potter. hingga sekarang pun saya tergila-gila dengan serial TV produksi Inggris, Skins. *oh, how I love Sid Jenkins and Cassie Ainsworth*Dasar kecintaan saya kepada budaya pop Britania Raya itulah yang membuat saya mempunyai mimpi bahwa suatu saat nanti saya harus menginjakkan kaki di sana untuk meneruskan studi jenjang master.
Secara kebetulan, saya menaruh minat pada bidang Cultural Studies, Pop Culture, dan Postmodernism --apalagi setelah membaca buku dari Dick Hebdige - Subculture; The Meaning of Style-- saya menjadi lebih tertarik. Ditambah ketika mengetahui bahwa Centre for Contemporary Cultural Studies yang ternama itu terletak di University of Birmingham, Inggris.Disamping itu, saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi dimana fokus penelitiannya adalah organisasi HAM terkemuka dunia, Amnesty International, yang didirikan dan berkantor pusat di London.
Kedua hal itu lebih membulatkan tekad saya untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.
Saya tahu, dengan mahalnya nilai tukar Pound sterling terhadap Rupiah membuat tekad saya itu sedikit terdengar di awang- awang, tetapi bagaimana pun mimpi dan harapan itu masih saya pegang hingga sekarang apalagi ketika mengetahui bahwa Pemerintah Inggris lewat lembaga British Council telah membuka jalan bagi mereka yang ingin meneruskan studi di Inggris dengan memberikan Chevening Scholarship untuk Pendidikan Master.
Semoga mimpi saya itu tercapai dan semoga saya suatu saat nanti bisa melintasi Abbey Road (termasuk mengunjungi Abbey Road Studio), berfoto di depan kemegahan arsitektur
Westminster Abbey, menikmati pemandangan kota London lewat London Eye, mengunjungi Universitas Oxford dan Cambridge yang terkenal, menyaksikan konser band-band Inggris ternama di Wembley Arena, merasakan kemeriahan Glastonbury Festival, bersuka ria di Piccadilly Circus, hingga menyeruput the real Earl Grey Tea di Hyde Park.Ya, semoga. *cross fingers*
Dan sebagai penutup ijinkan saya menampilkan video ketika para Liverpudlian menyanyikan lagu You'll Never Walk Alone pada semifinal kedua Liga Champion pada Mei 2007 di Anfield, dimana ketika itu The Reds membekuk The Blues dengan skor 4-1. yay!! Lagu ini mempunyai arti yang cukup dalam bagi saya karena seperti memberikan suntikan semangat untuk mencapai mimpi dan harapan saya. Enjoy!!
You’ll Never Walk Alone
When you walk through the storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of the larkWalk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk aloneWalk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone
regards,
.putt.
---------------------
Tags: Kompetisi Blog BC EducationUK
Source:
Gambar 1, gambar 2, gambar 3, gambar 4, dan gambar 5.








